![]() |
Gereja Kristen Pasudan di Kampung Palalangon Cianjur |
Cianjur, Metrolima.com - Kampung Palalangon yang terletak 20
kilometer dari pusat Kota Cianjur, Jawa Barat.Warga Kampung Palalangon 99
persen penduduknya pemeluk Kristen hidup damai di tengah Cianjur yang dikenal
sebagai wilayah santri. Menerapkan syariat Islam, dari 1,9 juta penduduk
Cianjur, 98 persen di antaranya merupakan muslim. Moto kabupaten yang dikenal
sebagai penghasil beras berkualitas itu Gerbang Marhamah atau Gerakan Membangun
Masyarakat Berakhlakul Karimah.
Palalangon juga satu-satunya kampung
di wilayah Desa Kertajaya yang mayoritas warganya Kristen. Toh, tak pernah ada
gesekan berarti antar pemeluk agama di kampung berpenduduk 1.117 jiwa tersebut.
Pemeluk Kristen dan Islam di
Palalangon maupun di kampung-kampung lain di Desa Kertajaya dan desa
tetangganya, Sindangjaya, erat bergandengan tangan dalam keseharian. ”Beberapa
hari lalu kami mengadakan baksos (bakti sosial) pengobatan, kami mengundang
mereka (warga non-Kristen, Red) juga. Berkat yang ada di gereja pun harus
dibagikan kepada masyarakat, bukan hanya kaum seiman,” jelasnya.
Yunarta menuturkan, saat Natal tiba,
tanpa diminta, para anggota Banser NU setempat selalu menawarkan ikut menjaga
gereja. Giliran pas Hari Raya Idul Adha, seperti dituturkan Ismail Soleh, ustad
Masjid Nurul Hidayah yang tak jauh dari Gereja Palalangon, warga Kristen turut
membantu penyembelihan hewan kurban. Juga, dalam pengamanan salat Id.
![]() |
Jemaat mengikuti Misa di Gereja Kristen Pasundan |
”Kalau pas ada kebaktian, yang
banyak jualan di sekitar gereja juga warga muslim. Perbedaan itu bukan musuh,
tapi kekayaan dan kekuatan,” kata Ismail.
Momen lain perekat keharmonisan di
wilayah tersebut adalah saat agenda rutin GKP Palalangon dalam memperingati
hari jadinya pada 17 Agustus. Bersama dengan para pemuka agama desa, mereka
menggelar pesta panen.
Pesta tersebut menjadi sebuah bagian
dalam mengucapkan syukur atas alam dan berkat yang telah diberikan. Pesta itu
pun mengundang para kiai, ustad, dan dewan pengurus masjid (DPM) setempat.
Toleransi di Palalangon itu
menenteramkan hati. Sebab, Setara, lembaga pemerhati hak asasi manusia, pernah
melansir data yang menyebutkan, sepanjang Januari–Juni 2015, terjadi 116
peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan dengan 136 tindakan.
Yunarta maupun Ismail sepakat, kunci
toleransi di kampung mereka tak muluk-muluk. Hanya terletak pada kemampuan
mengondisikan diri dan melihat situasi yang ada di sekitar. Bahwa saudara tak
hanya yang seiman, tetapi lintas iman.
”Sederhananya, kami ini modalnya
senyum dan sapa saja ketika bertemu sesama warga,” kata Yunarta.
Mengutip Arsip Indonesia, keberadaan
orang-orang Kristen di wilayah Cianjur bermula dari adanya permintaan
pemerintah Hindia Belanda kepada Bupati Cianjur Raden Prawiradireja II
(1862–1910) pada 1901. Mereka meminta bupati Cianjur ke-10 itu menyediakan
lahan kosong untuk komunitas Kristen pribumi yang ada dalam bimbingan NZV
(Nederlandsche Zendings Vereeniging), sebuah perkabaran misi Injil dari
Belanda.
Bupati Raden Prawiradireja II lantas
memberikan wewenang kepada salah seorang wedananya yang bernama Sabri. Sabri
kemudian mengajak B.M. Alkema dengan tujuh pengikutnya bergerak ke timur
Cianjur. Mereka menyusuri aliran Sungai Cisokan dan kemudian aliran Sungai Citarum.
Saat mendekati kawasan yang disebut
sebagai Leuwi Kuya (Lubuk Kura-Kura), tiba-tiba salah seorang di antara
rombongan itu terperosok masuk ke sebuah jurang. Untung, dia masih bisa
diselamatkan.
Di tempat itulah akhirnya para warga
Sunda pemeluk Kristen yang sebelumnya kerap menjadi korban persekusi di tempat
asal akhirnya bermukim dan mendirikan gereja. Di tempat itu pula mereka lantas
bisa hidup damai, berdampingan dengan pemeluk agama lain, sampai kini, 113
tahun berselang.
Sama-sama kuat memegang teguh
tradisi Sunda juga menjadi tali pengikat keharmonisan lainnya di Palalangon.
Palalangon itu sendiri adalah kata dalam bahasa Sunda yang berarti menara.
Bahasa Sunda pun sering diselipkan dalam tata acara kebaktian di GKP.
Misalnya, diselipkan dalam salah
satu lagu di antara sekian banyak lagu yang dinyanyikan. Penghormatan terhadap
tradisi juga diwujudkan warga kampung dengan mempertahankan marga. Di antaranya
adalah Jamur, Markasan, Djiun, Rifai, dan Kalla.
Meski demikian, tidak berarti tak
ada kelompok yang berusaha memecah kekompakan warga lintas agama di kampung
tersebut. Pada 1998 ada sekelompok orang yang berkeliling kampung dengan
meneriakkan yel-yel provokatif anti-Kristen. Mereka juga bermaksud menyerang
gereja.
Namun, dengan segera, para pemeluk
Islam di kampung itu dan kampung sekitarnya maju membela saudara-saudara
mereka. Bahkan, ada pemuka muslim yang ketika itu dengan lantang menantang,
jika para perusuh tak mundur, dia rela mati demi membela ketenteraman kampung.
Para perusuh akhirnya mundur
teratur. ”Belakangan diketahui ternyata tak ada satu pun di antara mereka yang
warga desa setempat atau desa sekitarnya,” kata Ismail.
Komunikasi dan koordinasi pun segera
dilakukan antar pemuka agama di wilayah tersebut. Ikrar persatuan pun terlahir
secara nonformal. ”Jangan sampai ada yang merusak kedamaian kampung kami,”
tutur Ismail.
Pengalaman itu juga mengajarkan
pentingnya fungsi majelis gereja di tingkat desa. ”Terbentuknya tidak diketahui
kapan, ini juga dorongan dari pemerintah dalam mendorong komunikasi antarumat
beragama,” jelas Yunarta.
Barangkali, itu salah satu kunci
sehingga toleransi antar pemeluk agama terjaga di Cianjur. Para anggota majelis
gereja sering duduk bersama dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang biasa muncul di masyarakat. Forum sejenis di
tingkat kecamatan adalah Badan Kerja Sama Antar Gereja dan di level kabupaten
ada Forum Keagamaan Umat Beragama.
Forum komunikasi itu kian dirasa
penting karena seiring berjalannya waktu, Kampung Palalangon dan sekitarnya
mulai dibanjiri pendatang. Ada yang Toraja, Manado, Batak, Sangir, dan
Tionghoa. Karena itu pula, perayaan Natal tahun ini dirancang untuk menunjukkan
keberagaman etnis tersebut.
Pada Minggu pagi lalu itu, geliat
persiapan Natal memang belum terlalu terlihat di Palalangon. Tapi, barangkali,
bukan itu yang terpenting. Keberhasilan menjaga keharmonisan selama lebih dari
seabad adalah kado Natal yang lebih indah dari apa pun. (pontiankpst/c10/ttg/arum/anang/jat)