Headlines News :
Home » » Pertemuan & Dukungan Ketua DPR atas Cakapres AS Donald Trump, Antara “Kecaman dan Apresiasi”

Pertemuan & Dukungan Ketua DPR atas Cakapres AS Donald Trump, Antara “Kecaman dan Apresiasi”

Pertemuan Ketua DPR dan Donald Trump
Nasional, Metrolima.com - Pengamat komunikasi politik Universitas Gadjah Mada, Kuskrido Ambardi, menilai pertemuan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Setya Novanto dengan politikus Partai Republik sekaligus calon kandidat presiden Donald Trump saat berkampanye merupakan tindakan yang salah. Pertemuan kedua tokoh ini pun dinilai tak berbuah keuntungan bagi Indonesia.

"Tidak ada keuntungannya sama sekali. Itu seperti hubungan yang imajiner dengan Indonesia, hubungan yang dibayangkan kelak," kata pria yang akrab disapa Dodi ini, ketika dihubungi CNN Indonesia, Sabtu (5/9). Menurutnya, pertemuan Setya dan Trump pun tak perlu dilakukan.

Lulusan Ohio State University ini menjelaskan, Trump sendiri bukanlah kandidat definitif Partai Republik dan tidak memiliki otoritas dalam pengambilan kebijakan di Negeri Paman Sam. Alhasil, kunjungan Setya pun dianggap laiknya tim sukses kemenangan Trump.

Terlebih, rekam jejak Trump yang dikenal sebagai orang konservatif justru memantik kontroversi. Trump kontroversial dengan sikapnya yang anti imigran dan tak peka dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Beberapa bulan lalu, Trump mendapat kecaman publik ketika melontarkan komentar bahwa imigran asal Meksiko hanya menjadi kriminal di Amerika.

"Ketika Setya Novanto datang dan dia merupakan Ketua DPR, itu banyak orang menafsirkan apakah Setya menyetujui visi Trump yang sensitif?" katanya.
Selfie dengan Tokoh
Menurut Dodi, pertemuan kedua orang tersebut bak orang Indonesia yang bertemu seorang tokoh pujaan. Trump diketahui merupakan pebisnis real estate dan pemilik reality show Miss USA.

"Itu seperti orang Indonesia yang ketemu orang top dan bersalaman. Itu adalah pengutamaan selfie untuk kepentingan Indonesia. Tidak layak," katanya.

Setya, menurut Dodi, seharusnya jusru mengutamakan pertemuan dengan sejumlah tokoh penting Amerika Serikat seperti Presiden Barack Obama, Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, atau Ketua Kongres John Boehner.

"Tapi kemudian kunjungan ke kampanye Donald Trump itu terlalu jauh. Itu kalau pakai uang negara ya salah, itu tidak ada hubungannya," ujarnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Setya terlihat hadir dalam konferensi pers Donald Trump di Trump Tower, New York City, Kamis (3/9). Sejumlah media asing ramai mempublikasikan foto keduanya. Rekaman video kehadiran Setya dalam acara ini pun beredar di Youtube.

Berdasarkan informasi dari Kepala Bagian Tata Usaha Ketua DPR, Hani Tahapari, Setya Novanto bersama Fadli Zon mengikuti agenda sidang The 4th World Conference of Speakers Inter Parliamentary Union (IPU) di New York. Acara tersebut diagendakan berlangsung dari tanggal 31 Agustus sampai dengan 2 September 2015.

Namun, Setya memilih memperpanjang keberadaaanya di Amerika untuk bertemu Donald Trump. Setya dan Fadli Zon pun sempat bercakap soal politik dan ekonomi dua negara.

Diapresiasi
Selfie ala  Wakil ketua DPR
“ Kunjungan Pimpinan DPR ke Amerika Serikat tak perlu dibesar-besarkan. Sebab, kunjungan itu adalah perjalanan dinas dalam rangka memenuhi undangan IPU Speakers Conference (Inter Parliamentary Union) atau Konferensi Ketua Parlemen Dunia ke-4 dan Ketua DPR Setya Novanto juga berbicara pada forum tersebut mengenai isu-isu demokrasi dan kesejahteraan “ demikian dikatakan Arief Rachman Direktur Eksekutif Institut Proklamasi,

“Kehadiran Ketua DPR Setya Novanto ke Amerika Serikat menunjukkan kelas Indonesia yang kian diperhitungkan di mata dunia.

“Ini justru positif bagi citra Indonesia yang kian dikenal dunia. Apalagi, kondisi ekonomi dalam negeri yang saat ini membutuhkan banyak investor luar negeri untuk hadir, justru akan menjadi magnet politik tersendiri bagi citra bangsa Indonesia yang tidak menutup diri dalam pergaulan global," ungkap Arief, di Jakarta, Sabtu (5/9/2015).

Dia menyayangkan, sikap sejumlah pihak yang tidak suka atas pertemuan Pimpinan DPR dengan calon Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurutnya, kehadiran itu erat kaitannya dengan upaya menarik investasi di Bali.

“Kita harus melihat ini secara objektif agar lepas dari kepentingan subjektif," ucapnya.
Terkait dengan adanya desakan pihak-pihak tertentu agar persoalan ini ditindaklanjuti menurutnya hal itu tak perlu dilakukan.

"Kita tak perlu mengurusi hal-hal yang hanya akan menguras energi apalagi untuk urusan yang kurang urgent,"kata dia.

Yang jauh lebih penting, saat ini adalah bagaimana agar seluruh kekuatan nasional dapat bekerjasama dalam membangun bangsa dan negara.

“Saatnya Indonesia bangkit berdiri sejajar dengan negara-negara adidaya. Tapi untuk sampai kesana kita butuh kebersamaan. Bukan malah saling menjatuhkan satu sama lain. Sangat disayangkan jika kita selalu terjebak konflik kepentingan yang justru memundurkan bangsa," pungkasnya. (CNN/AA/Meg/Fid/Jat)
Share this article :

<<< Mari Bergabung Bersama Kami >>>

*** Telah Terbit Edisi 146 Tahun Ke-10 ***

*** Telah Terbit Edisi 146 Tahun Ke-10 ***
DAPATKAN SECARA BERLANGGANAN : Tabloid Dwi-mingguan : MEDIA CETAK DAN ONLINE : Berita Lengkap, Isi dan Tampilan Baru : Wisata, Kuliner, Info Kesehatan dan Kecantikan, Keluarga, Kisah Nyata, Misteri, Zodiak, Selebrita Dll.

BERITA POPULAR

 
Copyright © 2015. tabloidmetrolima - All Rights Reserved