![]() |
| Achmad Dzulkarnain Pendaki tanpa Tangan dan kaki |
Humaniora, Metrolima.com - Achmad
Dzulkarnain, pemuda asal Desa Benelanlor, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, Jawa
Timur, yang memiliki keterbatasan fisik berhasil mencapai puncak Gunung Ijen
yang berada di perbatasan Banyuwangi dan Situbondo.
Lelaki yang akrab dipanggil Dzuel
bercerita jika keinginan dia untuk mendaki Gunung Ijen, awalnya hanya sekadar
mimpi, karena fisiknya yang tidak memungkinkan untuk mendaki gunung dengan
ketinggian 2.444 meter.
Sebelumnya, lelaki yang menekuni
hobi fotografi tersebut pernah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti hunting
fotografi Ijen series, namun batal karena kondisi fisiknya.
"Saat itu saya mikir
bagaimana caranya saya naik ke atas. Pasti akan merepotkan banyak orang,"
kata dia.
Dia sempat berpikir untuk meminta
bantuan dari penambang belerang untuk menggendong dia, namun dia belum percaya
diri. "Saya masih belum siap saat itu," kata dia.
Kesempatan kedua muncul saat
rekan rekannya yang bergabung dalam komunitas Art Osing Singonjuruh berencana
untuk mendaki Gunung Ijen dan menawari Dzuel untuk bergabung. Lalu mereka
menawarkan ide dengan menggendong Dzuel dengan tas ransel pendaki gunung.
"Saat itu mereka meyakinkan
diri saya bahwa pasti bisa sampai ke puncak. Akhirnya saya dimasukkan di dalam
tas carrier teman saya dan digendong secara bergantian oleh rekan rekan
saya," kata Dzuel.
Dzuel juga dipinjami jaket tebal
untuk melindungi tubuhnya dari udara gunung yang sangat dingin. Jaket tersebut
dilipat menjadi dua karena terlalu besar untuk tubuhnya yang kecil.
Perjalanan ke atas bukannya tanpa
kendala, jika rekan rekannya kelelahan, lelaki lajang dengan bobot sekitar 40
kilogram tersebut, memilih untuk turun dan jalan sendiri. "Saat menjelang
puncak saya jalan sendiri karena sudah tidak tega melihat rekan rekan saya.
Mereka kelelahan karena menggendong saya," ujar Dzuel.
Dzuel bersama lima rekannya
berangkat dari Paltuding jam 2 dini hari dan baru sampai puncak Ijen sekitar
06.30 wib. "Kurang lebih lima jam karena kami banyak berhentinya. Memang
tidak bisa motret blue fire tapi itu bukan tujuan utama. Karena yang
terpenting saya bisa membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi
untuk beraktivitas seperti oragn normal lainnya," kata dia.
Saat menginjakkan kaki di puncak
Gunung Ijen, ia mengaku masih belum percaya dan langsung melakukan sujud
syukur. "Apa ini mimpi yaa. Saya sampai mukul mukul kepala sendiri. Tidak
nyangka bisa sampai sana. Banyak yang nangis dan ngajak saya selfie,"
kata dia sambil tertawa.
Masalah baru muncul saat mereka
memutuskan untuk turun. Kondisi rekan-rekannya yang kelelahan membuat Dzuel
tidak tega untuk meminta bantuan. Akhirnya, dia memutuskan untuk turun dengan
bantuan penambang belerang.
"Saya akhirnya turun dengan
naik gerobak yang biasanya untuk bawa belerang. Penambang awalnya tidak meminta
ongkos katanya enggak tega liat saya tapi tetap saya kasih walau tidak banyak,"
kata dia.
Dia mengaku pengalaman pertamanya
tersebut tidak akan dilupakan dan menjadi motivasi bagi dia bahwa tidak ada
yang tidak mungkin jika berusaha. "Awalnya hanya mimpi lalu saya dibantu
mewujudkannya dengan sahabat sahabat saya. Ini luar biasa walaupun bagian bawah
kaki saya lecet dan terluka tapi tidak masalah, nanti juga sembuh Yang penting
saya bisa wujudkan mimpi saya," ujar Dzuel. (Komps/Ira/Glori/Jat)
