![]() |
|
Pasangan Cawalkot
Depok Dimas-Babai melayangkan proteskan kepada KPU
|
Depok,
Metrolima.com
- Pasangan Calon Wali Kota (Cawalkot) Depok Dimas Oky Nugroho-Babai Suhaemi
melayangkan proteskan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pasangan nomor urut
satu ini mempersoalkan adanya pengurangan jumlah pemilih dari Daftar Pemilih
Tetap (DPT) Pileg 2014 dan DPT Pilkada 2015, data yang dicatat pasangan ini menyusut
hingga 39 ribu suara.
"Pengurangan jumlah pemilih ini melanggar hak asasi, langgar UU
penghilangan hak demokrasi, 39 ribu suara. Kami layangkan protes tertulis ke
Panwas dan KPUD. Masa lucu jumlah penduduk Depok terus bertambah tapi jumlah
pemilih bisa menurun," tukas Calon Wakil Wali Kota Depok Babai Suhaemi di
Hotel Bumi Wiyata, Depok, Kamis (8/10/2015).
Pengurangan terjadi di tujuh kecamatan yakni Tapos (3.120 pemilih), Bojongsari (207 pemilih), Cipayung (4.560 pemilih, Sawangan (1.765 pemilih), Beji (1.0567 pemilih), Cinere (8.361 pemilih), dan Sukmajaya (10.732 pemilih). Babai menambahkan, belum lagi terkait adanya dugaan anggaran yang tidak transparan yang dilakukan KPU Kota Depok.
"Bisa saja
korupsi, persoalan TPS kalau di dalam draft ajuan mereka ke pemerintah
kenyataannya hanya sekian TPS," tukasnya.
Selain itu,
banyaknya Alat Peraga Kampanye (APK) yang dipasang KPU Kota Depok justru lebih
banyak APK calon incumbent. Ia menuding keberpihakan KPU terhadap pasangan
incumbent juga terlihat dari setiap proses sosialisasi.
"Nomor dua
banyaknya APK yang dipasang. APK nomor satu ada yang enggak dipasang, boleh
dicek. APK kami juga ditempatkan di tempat yang kurang strategis, ditempatkan
di tempat tak terlihat. KPUD enggak profesional harusnya APK
berdampingan," tuturnya.
Dia juga
menyesalkan sosialisasi yang tak optimal oleh KPU Kota Depok terkait tahapan
Pilkada. Belum lagi banyaknya isu kampanye hitam soal SARA, menurutnya membuat
pasangan ini dirugikan.
"Kampanye hitam
bagaimana mempergunakan SARA, pihak calonnya sendiri bentuknya omongan jangan
pilih calon wali kota yang kafir katanya, kan enggak benar. Itu fitnah,
mengandung adu domba antar agama," tuturnya.(sn/mar/jat)
